Kamis, 17 Maret 2016

Inilah Ancaman Penyalahguna Al Qur’an

 Tidak sedikit perilaku yang tak Qurani dilakukan oleh oknum-oknum yang selalu bergumul dengan Al Qur’an. Baik dia sebagai orang yang sering membaca Al Qur’an, para penghafal Al Qur’an,  maupun yang melakukan kajian tentang Al Qur’an.

Tidak selamanya orang yang selalu bergaul dengan Al-Quran itu pasti berperilaku Qur’ani. Bahkan ada yang sampai aqidahnya bertentangan dengan Al Qur’an. Contohnya, Dr. Thaha Husein yang dikenal sebagai Bapak Sastra Arab di Mesir, ia sudah hafal Al-Quran sejak kecil, namun akhirnya ia tidak percaya bahwa Al-Quran itu wahyu Allah SWT.

Perilaku seperti itu bisa dicegah dengan mempelajari peringatan-peringatan dari Rasulullah SAW terhadap orang-orang yang salah dalam menggauli Al Qur’an. Berikut ini hadits-hadits Rasulullah SAW terhadap mereka yang menyalahgunakan Al Qur’an.

Pertama, Al Qur’an mengawal pembacanya ke Surga atau ke Neraka. Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari ra, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Al Qur’an itu merupakan bukti yang menguntungkan kamu (yang mengawalmu ke surga) atau bukti yang mencelakakan kamu (yang menyeretmu ke neraka)”. (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

Kedua, Al Qur’an dan Susu, Dua hal yang dikhawatirkan Nabi SAW. Dari Uqbah bin Amir ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua hal yang saya khawatirkan terhadap umatku, yaitu Al Qur’an dan susu. Dengan susu mereka akan mencari makanan yang mewah, mengikuti hawa nafsu, dan meninggalkan shalat. Sedangkan Al Qur’an nanti akan dipelajari oleh orang-orang munafik lalu dipakai untuk mendebat orang-orang mukmin”. (HR Ahmad)

Ketiga, Orang yang menyalahgunakan Al Qur’an menganggap ibadahnya Paling Baik. Dari Abu Sa’id Al-Khudry ra ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Di antara kamu sekalian nanti akan muncul sekelompok orang yang memandang rendah shalat kalian bersama shalat mereka, puasa kalian bersama puasa mereka, dan amal kalian bersama amal mereka. Mereka membaca Al Qur’an, tetapi Al Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama (Islam) seperti keluarnya anak panah yang terlepas dari busurnya”. (HR Bukhari dan Ibnu Majah).

Keempat, diantara tanda-tanda orang yang menyalahgunakan Al Qur’an, usianya masih remaja dan tidak cerdas. Dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: “Saya mendengar Nabi SAW bersabda: “Pada akhir zaman nanti, akan muncul sekelompok orang yang umurnya masih muda, berakal dan berbudi rendah. Mereka mengumandangkan kalamullah. Mereka itu keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah yang terlepas dari busurnya. Iman mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Dimana saja kalian bertemu dengan mereka itu bunuhlah mereka. Karena orang yang membunuh mereka akan memperoleh pahala pada hari kiamat nanti”. (HR Bukhari dan Ibnu Majah).

Kelima, motivasi orang mempelajari Al Qur’an antara lain untuk mencari makan dan meraih popularitas. Dari Abu Sa’id ra dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Pelajarilah Al Qur’an dan mohonlah kepada Allah dengan Al Qur’an itu sebelum Al Qur’an dipelajari oleh orang-orang yang hendak mencari dunia. Sebab Al Qur’an akan dipelajari oleh tiga jenis manusia; yaitu orang yang mempelajari Al Qur’an untuk popularitas, orang yang mempelajari Al Qur’an untuk mencari makan dan orang yang mempelajari serta membaca Al Qur’an untuk memperoleh ridha Allah SWT”. (HR Hakim).

Keenam, akan terjadi orang yang mempelajari Al Qur’an hanya mengharapkan imbalan dunia. Dari Jabir ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Bacalah Al Qur’an sebelum datang sekelompok orang yang membacakan Al Qur’an seperti orang yang sedang mengadakan undian. Mereka mengharapkan hasil yang cepat (imbalan duniawi) dan tidak mengharapkan hasil yang lambat (pahala ukhrawi)”. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Ketujuh, akan terjadi orang membaca Al Qur’an untuk meminta-minta. Dari Imran bin Husain ra, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca Al Qur’an hendaknya ia memohon kepada Allah. Sebab akan datang sekelompok orang yang membacakan Al Qur’an untuk meminta-minta kepada orang lain”. (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Kedelapan, ancaman terhadap orang yang menjadikan Al Qur’an sebagai alat untuk mencari makan. Dari Buraidah ra, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Quran untuk mencari makan dari orang-orang, maka pada hari kiamat nanti ia akan datang sedangkan wajahnya akan berupa tulang, tidak ada dagingnya”. (HR Baihaqi)

Kesembilan, penghafal Al-Quran yang senang bermaksiat akan disiksa lebih dahulu daripada penyembah berhala. Dari Anas ra, bahwa Nabi SAW bersabda: “Malaikat Zabaniyah itu akan lebih cepat menyiksa para penghafal Al-Quran yang fasik daripada para penyembah berhala. Para penghafal Al Quran itu lalu bertanya,“Kenapa kami disiksa lebih dahulu daripada penyembah berhala? Mereka dijawab, “Orang yang mengetahui itu tidak sama dengan orang yang tidak mengetahui”. (HR Thabrani).

Semoga para penghafal memperhatikan pesan dari Nabi SAW agar terhindar perkara yang justru menjadi petaka di akhirat nanti, karena tidak mengamalkan Al Qur’an sebagaimana mestinya. Semogga Allah menggiring kita ke dalam surga-Nya, bukan menyeret ke neraka, naudzubillah min dzalik. (Desastian)

Gerakan Hafizh Al Qur’an Patut Disyukuri



 Penghafal Al Qur’an tidak harus cerdas. Di Yaman, ada seorang nenek berusia 80 tahun juara menghafal Al Qur’an 30 juz. Usia tak menjadi penghalang untuk belajar Islam dan menghafal Al Qu’ran. Yang tua, muda, anak kecil, hingga orang buta pun bisa, asal ada kesungguhan.

Sebenarnya tidak ada kewajiban umat Islam untuk menghafal Al Qur’an. Yang menjadi kewajiban umat Islam adalah mengamalkan isi dan kandungan Al Qur’an. Namun, ada banyak keuntungan dan keutamaan dari mengahafal Al Qur’an, diantaranya adalah mendapat kemuliaan disisi Allah dan ditinggikan derajatnya di dalam Surga.

“Tidak ada penjelasan ayat Al Qur’an maupun hadits yang mewajibkan umat ini untuk menghafal Al Qur’an. Yang menjadi keharusaan, adalah menghayati, mentadabburi, dan mengamalkannya. Di hari Kiamat nanti, Allah tidak bertanya, kenapa kamu tidak menghafal Al Qur’an, tapi ditanya kenapa kamu tidak mengamalkan Al Qur’an. Itulah sebabnya, Al Qur’an diturunkan untuk menjadi petunjuk, dipelajari, dihayati, dan diamalkan,” ungkap Syekh Ali Jaber.

Untuk mentadabburi Al Qur’an diperlukan akal sehat dan memiliki kemampuan untuk berpikir, sehingga menerima pelajaran ayat demi ayat dengan mudah tanpa disalahpahami.

“Al Qur’an membawa berkah untuk ditadabburi. Kata ulama, siapa yang ingin mendengar Allah berbicara, bacalah Al Qur’an, dan barangsiapa ingin bicara kepada Allah, lakukanlah shalat,” tandas Syekh Ali.

Telah disebutkan dalam hadits shahih, ketika penghafal Al Qur’an masuk surga, maka bacalah dengan tartil. Semakin banyak bacaan dan hafalannya, maka semakin tinggi kedudukannya. Jumlah tingkatan dalam surga itu sesuai ayat Al Qur’an yang dibaca.

“Tidak ada yang lebih tinggi di dalam surga selain ahli Al Qur’an. Dalam hadits juga disebutkan, para penghafal bisa membagi syafaat kepada keluarganya. Inilah yang mendorong ulama, pemuda  dan umat Islam untuk menghafalkan Al Qur’an.”

Allah berfirman, “Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari.” Buktinya, tak ada umat lain yang mampu menghafal kitab sucinya, selain umat Islam. Inilah salah satu mukjizat Al Qur’an yang mudah dihafal, meski tidak dimengerti isi dan bahasanya.

Fenomena Hafizh Al Qur’an
Jaminan kemudahan mempelajari Al Qur’an, membuat umat Islam terdorong untuk menghafal Al Qur’an 30 juz.  Fenomena menghafal Al Qur’an inilah yang menjadi salahsatu kebanggaan umat Islam. Bukan hanya segelintir umat yang  mampu menghafal kitab sucinya sendiri, melaikan jutaan orang yang mampu menghafalnya. Inilah kemuliaan Al Qur’an yang diberi kemudahan untuk menghafal, kemampuan yang tak dimiliki umat lain.

 Syekh Ali melihat program penghafal Al Qur’an di Indonesia, sebenarnya sudah lama , tapi tidak dieskpos oleh media. Dari metode pengajarannya pun berbeda-beda. Tapi yang jelas, umat Islam Indonesia termasuk bangsa yang memperhatikan Al Qur’an. Bahkan, orang awam yang buta huruf, belum bisa sama sekali membaca Al Qur’an pun, berminat untuk menghafal Al Qur’an, termasuk orang buta, siapapun dari berbagai latar belakang profesinya.

“Mulai dari pedagang bakso, sopir taksi, tua, muda, hingga anak-anak sekalipun. Ini merupakan salah satu bentuk kebangkitan umat Islam di Indonesia.  Mereka menghafal Al Qur’an, sebatas kemampuannya.”

Syekh Ali sangat bersyukur dan mengapresiasi Gerakan Menghafal Al Qur’an “Satu hari satu ayat” yang diusung Ustadz Yusuf Mansur. Kegiatan wisuda hafiz setiap tahunnya, meski belum sepenuhnya hafal 30 juz, telah memotivasi masyarakat awam untuk mencintai Al Qur’an. Inilah cara Allah untuk menjaga Al Qur’an.

“Jika Allah tidak menjaga, boleh jadi Al Qur’an akan musnah, tidak ada lagi ditengah kita, entah dibakar atau disebabkan hilang dicuri.  Secara fisik, Al Qur’an bukan tidak mungkin dibumihanguskan, tapi Al Qur’an tetap ada didalam dada para penghafal Al Qur’an. Itulah salah satu keutamaan menghafal Al Qur’an,” tukas Syekh Ali.

Betapa ulama menghargai dan memuliakan para penghafal Al Qur’an. Meski bukan kewajiban dan keharusan menghafal Al Qur’an, namun manfaatnya demikian besar. Untuk memimpin shalat berjamaah atau shalat tarawih, misalnya, tentu harus imam yang menghafal Qur’an. Jika tak ada penghafal Al Qur’an sama sekali bisa dibayangkan, siapa yang memimpin shalat berjamaah.

Ketika ditanya, apakah untuk menghafal Al Qur’an hingga 30 juz harus orang yang memiliki kecerdasan? Dikatakan Syekh Ali, tidak ada jaminan hanya orang tertentu yang bisa menghafal Al Qur’an. Seseorang memiliki kemampuan menghafal Al Qur’an disebabkan karena taufik dari Allah SWT. Penghafal Al Qur’an pun tidak harus cerdas. Terpenting adalah ada upaya dan kerja keras.

“Dibutuhkan waktu, tenaga dan pikiran, dari pagi hingga malam, untuk mengulang berkali-kali bacaannya, atau mendengar berkali-kali murottal dari CD. Selama minatnya besar dan sungguh-sungguh, yakinlah Allah akan memudahkannya. Termasuk yang sudah berusia lanjut sekalipun.”

Syekh mengatakan, belum lama ini ada seorang nenek berusia 80 tahun di  Yaman, yang meraih juara hafal Al Qur’an 30 juz. Ini membuktikan, untuk belajar Islam dan menghafal Al Qu’ran tidak terhalang usia. Yang tua, muda, anak kecil, hingga orang buta pun bisa, asal ada kesungguhan.

“Memang belajar dan menghafal Al Quran sejak kecil, jauh lebih mudah ketimbang  dimasa tua. Namun harus diketahui, ulama terdahulu, bahkan sahabat Nabi saw, justru mempelajari ilmu diatas 40 tahun. Islamnya para sahabat masuk Islam, rata-rata di atas 40 tahun. Jadi usia tidak ada halangan untuk menghafal Al Qur’an, ” ungkap Syekh Ali memotivasi. (Desastian)

Keutamaan & Kedudukan Penghafal Al-Quran

Tak ada kitab suci yang mudah dihafal, selain kitab sucinya umat Islam, yakni Al Qur’an. Itulah salah satu mukjizat Al Qur’an. Selain mudah dihafal, juga menjadi pelajaran bagi yang berakal. Allah lah yang menjaga kitab suci ini di dalam hati kaum muslimin, sehingga Al Quran terjaga dari kepunahan, abadi sepanjang masa.

 Allah SWT telah memuliakan umat ini, yang telah menjadikan hati orang-orang yang shaleh sebagai tempat pemeliharaan firman-firman-Nya dan dada-dada mereka sebagai mushaf untuk menjaga ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman dalam salah satu hadits Qudsi: “Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk menguji dirimu dan Aku menguji denganmu. Dan aku telah menurunkan sebuah kitab kepadamu, yang tidak akan luntur karena air, engkau membacanya di kala tidur maupun terjaga.” (HR Muslim)

Imam Abu Hasan al-Mawardi dalam kitab A’lam an-Nubuwah mengatakan, hal ini sebagai pertanda kekhususan Ilahi, dimana Allah mengutamakannya dari kitab-kitab selainnya.

Dalam Nuzhatul Uqala’ Tahzib Siyaru ‘Alam an-Nubala: 2/247, ada beberapa kedudukan dan keutamaan al-Hafiz atau para penghafal Al Qur’an: Pertama, memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain ketika di akhirat nanti, sebagaimana hadits Nabi SAW: “Dikatakan kepada ahli Al Qur’an: Bacalah dan naiklah dan tartilkanlah bacaanmu sebagaimana engkau dulu membacanya secara tartil di dunia, karena sesungguhnya tempatmu terletak di akhir ayat yang engkau baca.” (HR Abu Daud).

Kedua, al-Hafiz didahulukan urusannya, baik di dunia maupun akhirat, di antaranya, ia lebih berhak menjadi pemimpin. Sebagai contoh, Umar ra pernah menyetujui pilihan Nafi bin Abdul Harits yang mengangkat budaknya sebagai pemimpin karena ia adalah seorang hafiz. Umar ra teringat sabda Nabi SAW:“Sesungguhnya Allah SWT mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan menghinakan pula kaum yang lain.”(HR Muslim)

Ketiga, al-Hafiz adalah kekasih Allah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT memiliki kekasih dari manusia, para sahabat bertanya; "Wahai Rasulullah, siapakah mereka? Nabi menjawab: “Mereka adalah ahlu al-Quran, mereka menjadi Ahlullah dan kekasih-Nya.”(HR Ibnu Majah).

Keempat, jasad seorang hafiz tidak dapat tersentuh api neraka, Rasulullah SAW bersabda: “Kalau sekiranya Al Qur’an itu berada di atas kulit, niscaya ia tidak akan termakan api.” (HR Ahmad). Maksud dari api dalam hadits ini adalah api neraka dan orang yang selalu menghafal dan membaca Al Qur’an tidak akan dijilat oleh api neraka.
Kelima, seorang hafidz adalah orang yang arif di surga, Rasulullah SAW bersabda: “Para qari’-qari’ah itu adalah orang yang arif di surga”. (HR Ibnu Jami’ dalam kitab Al-Mu’jam).

Keenam, seorang hafidz adalah pembawa panji-panji Islam. Dari Abu Umamah bahwa Nabi SAW bersabda: “Orang yang hafal Al-Quran itu adalah pembawa panji-panji Islam. Siapa yang memuliakannya berarti ia memuliakan Allah, dan siapa yang menghinanya, maka ia akan dilaknat oleh Allah SWT” (HR Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus).

Ketujuh, Alhafidz dapat memberikan syafaat kepada keluarganya, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, dan memberinya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya dimana mereka semuanya telah ditetapkan untuk masuk neraka”. (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Setelah mengetahui keutamaan-keutamaan ini, hendaknya seorang muslim berkeinginan kuat untuk bisa menghafal Al Qur’an.  Simaklah pesan emas yang diriwayatkan dari Imam az-Zahabi di dalam kitab Siyaru ‘Alam an-Nubala dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: “Hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah, karena ia merupakan pangkal dari segala sesuatu. Berjihadlah, karena ia merupalan dalil-dalil ke-Islam-an. Dan hendaklah kalian mengingat Allah dan membaca Al Quran, karena ia merupakan Ruh-mu di Ahli langit dan zikirmu di Ahli bumi.”  

Tips Mudah Hafal Al Qur’an


Syekh Ali Jaber telah mempelajari Al Qur’an sejak usia 3 tahun. Tamat menghafal Al Qur’an usia 8 tahun, dan memantabkan hafalannya (hingga 30 juz) saat usia 11 tahun. Sejak itu ia mendapat  ijazah Sanad Qur’an dari guru yang mengajarnya.
Secara khusus, Yayasan Syekh Ali Jaber, telah menghadirkan Program Mahir dengan Al Qur’an dengan mengadakan pelatihan Sanad Al Qur’an kepada guru Al Qur’an dan imam-imam masjid, agar tajwid yang mereka baca seperti bacaan Al Qur’an Rasulullah Saw.

“Selain mengembangkan program hafal Al Qur’an dengan daurah sanad, saya juga bercita-cita untuk mengembangkan program menghafal  hadits. Karena Qur’an dan hadits adalah petunjukan umat Islam yang harus dijaga. Sayang sekali, jika kita memiliki kualitas orang penghafal Al Qur’an dengan ijazah dan sanad, tapi tidak disertai penghafal hadits,” ujar Syekh Ali.

Ada beberapa tips jitu Syekh Ali kepada masyarakat awam untuk menghafal Al Qur’an. Pertama, sering-sering membaca, tilawah Al Qur’an. Gunakan waktu yang tepat, seperti sehabis shalat Subuh, untuk muraja’ah atau tilawah. Jangan fokuskan dulu menghafal, tapi bacalah secara rutin. Kalau ini terjaga Insya Allah memudahkan kita untuk menghafal. Jangan berjam –jam membaca hanya untuk hari ini, tapi esoknya tak rutin lagi tilawah.

Tips kedua, sering-seringlah mendengar atau menyimak tilawah murotal dari CD. Jika ingin hafal satu surah, fokuskan mendengar satu surah berkali-kali. Kuncinya jangan perbah bosan. Karena tidak ada ruginya, sekalipun tidak berhasil menghafal Al Qur’an, tetap setiap satu huruf akan mendapat sepuluh kebaikan. Pahalanya tetap sempura disisi Allah.

“Intinya, hafalkan sesuai kemampuan masing-masing. Jika hanya mampu hafal satu ayat tak mengapa, atau setengah halaman, satu halaman, atau bahkan dua halaman, silahkan saja. Saya usulkan, targetkan setengah halaman, begitu berhasil dihafal, jangan tambah lagi ke hafalan yang baru. Sebelum pindah ke hafalan baru,  hendaknya ditunda hingga esok harinya.

Tips ketiga, ayat-ayat yang sudah dihafal, kemudian diulang saat melakukan shalat sunnah qabliyah ba’diyah, atau tahiyatul masjid, Dhuha, dan shalat sunnah lainnya. Ini satu cara untuk menguatkan hapalan kita.

Terpenting, tanamkan niat yang ikhlas, agar tidak timbul ujub (bangga diri), ingin dikenal dan supaya dipanggil hafizh. Jadikanlah Al Qur’an sebagai pedoman dan panduan hidup, agar terwujud perilaku dan akhlak Qura’ni dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  (Desastian)